Man Yazrok Yahsud: Barang Siapa Menanam Akan Memetik

Setelah sebelumnya membahas mahafudzot Man Jadda Wajada kali ini kita membahas tentang Man Yazrok Yahsud. Ungkapan ini dapat diartikan barang siapa menanam maka ia memetik. Atau dalam ungkapan lain “barang siapa menanam maka akan mengetam.”

Ungkapan ini tentu bisa dipahami dalam konteks masyarakat agraris dimana masyarakan mendiami suatu tempat dan hidup dengan bercocok tanam.

Tentu ungkapan ini akan sulit dipahami dalam masyarakat nomaden, baduwi yang hidup dengan berpindah-pindah untuk mencari sumber makanan.

Dalam masyarakan agraris maka untuk mendapatkan makanan seseorang harus terlebih dahulu menanam. Dengan menanam maka nantinya mereka akan bisa memanen hasil dari tanaman tersebut.

Baca juga: Sedikit Tetapi Istiqomah Lebih Baik daripada Banyak Tetapi Cuma Sekali

Tanpa menanam maka orang tidak memanen dan karena tidak memiliki makanan. Kalau tidak menanam padi maka tidak akan punya padi. Kalau tidak menanam gandum maka tidak akan memanen gandum?

Bagaimana kalau ada yang tidak menanam tapi memanen?

Dalam masyarakat agraris sudah mendiami suatu tempat akan diatur tentang hak miliki. Dengan begitu diatur tentang kepemilikan. Diatur juga tentang perpindahan kepemilikan.

Termasuk dalam hal ini adalah tananam. Orang yang tidak ikut menanam tentu tidak berhak untuk memiliki hasil dari tanaman tersebut.

Maka kalau ingin memanen kegiatan menanam harus dilakukan. Semakin banyak panen yang diinginkan maka harus semakin banyak pula menanamnya.

Dalam ungkapan mahfudzon man yazrok yahsud tentu tidak hanya berlaku dalam tanam-panen betulan. Hal tersebut juga adalah metafor yang artinya kalau hendak memperoleh hasil Anda harus berusaha. Semakin banyak hasil yang diinginkan maka harus semakin keras usahanya.